Wednesday, June 18, 2008

Jangan sampe salah jurusan

Tahun lalu, gue ikut UAN SMP. Not to mention what I have sacrificed a lot and it was just like, err… the end of the world or something. Dan, itu juga mengubah gue banget. Dulu, gue anak males. Gue nggak pernah ikut les seumur-umur. Pernah sih les piano waktu kelas 1 SD, tapi itu juga ga di lembaga dan ngga bertahan lama karena gue takut sama gurunya yang rada gay (I was anti-gay, but I’m really not now. I even believe there’s a bit of gay in each of us) dan suka ngomel-ngomel pake bahasa Jerman (dia emang keturunan Jerman dan pernah cukup lama tinggal di sana). Pokoknya intinya, gue nggak pernah deh belajar di luar waktu sekolah. Nah, menjelang UAN itulah gue sadar, I’ll be totally insane if I don’t take any course. Karena gue tipe orang yang ga bakal bisa belajar bener kalo ga ada gurunya. Jadi ya udah, gue les deh. Dan gue nekat mem-full-kan jadwal les gue dari Senin-Jumat. Gue nggak kenal hari libur deh selama 3 bulan sebelum UAN. Kadang-kadang doang gue ke mall. Itu juga ga ngapa2in. pikiran gue fokus banget ke UAN. Alasan gue waktu itu obvious banget: gue harus lulus!

Soalnya, gue takut. Ketakutan terbesar gue bukannya nggak lulus SMP (yeah siapa sih yang nggak takut sama yang satu ini) atau nggak masuk SMA favorit. I was afraid I’m not ready enough for high school. You know, high school kids are the real image for homo homini lupus. They’re cruel and nasty and… yeah, insane. Dan nggak hanya itu aja, gue juga takut sama penjurusan. Di mata gue saat ini, penjurusan adalah sangat penting . Buat apa gue naik kelas kalo gue nggak dapet jurusan?

Waktu gue kelas 3 SD, kakak gue yang pertama masuk jurusan IPS, and I always wanna be like her. So I study hard in social subjects, dan kebetulan gue kayaknya emang jago ngafalin tanggal, kejadian dan sebagainya. Bahkan dari jaman SD itu, gue selalu nanya-nanya masalah ekonomi sama nyokap gue. Nyokap gue dulunya orang bank, jadi dia tau lah gimana ekonomi itu. Bayangin aja, dari jaman anak SD cuma taunya masalah jenis-jenis kebutuhan primer dsb, gue udah ngerti apa itu deposito, kredit etc. Tapi gue orangnya gampang banget terpengaruh sama orang. Kakak gue yang kedua masuk jurusan IPA. Dan dia, beserta temen-temen SMP gue, selalu memberikan doktrin2 ke gue.

Kakak gue: “IPA tuh lebih banyak tantangannya, De! Ada itungannya ada hafalannya. Terus peluang kuliahnya juga lebihbesar kamu mau masuk jurusan apa aja bisa.”
Gue: “Yee di IPS juga ada! Dan kalo soal kuliah sih, misal lo bego kan sama aja ga ada universitas yang bakal nerima lo.”

Temen gue #1: “IPA lebih pinter tau Rien daripada IPS.”
Gue: “Kalo lo dapet nilai 2 di IPA tapi lo bisa dapet 9 di IPS, lo masih tetep lebih pinter?”

Temen gue #2: “Ih, IPS tuh buangan tau Rien!”
Gue: “Heh, kalo ngga ada buangan juga ngga bakal ada unggulan, gila!”

Gue terus ngebela IPS. Kakak gue yang pertama bangga sama gue (ih lebay. Nggak mungkinlah ya). Tapi saat gue masuk SMA, SMA gue dipenuhi dengan anak-anak pinter, bersemangat tinggi untuk maju, punya goal-goal yang keren, wuih silau banget deh pokoknya. Dan mereka selalu bilang hal yang sama.

Temen-temen SMA gue #1-400: “Pokoknya gue harus masuk IPA!”

Dan iman gue goyah saat itu juga. Gue jadi ikutan bilang, “Oh gue juga harus masuk IPA!” Ckckck. Jadilah, dengan itu semua gue ikutan les sampe malem. Cuma demi masuk IPA. Masuk IPA. Itu dua kata yang sangat sakral dan suci dan agung dan mulia bagi 400 orang di angkatan gue. Padahal kalo gue pikir-pikir, both are okay for me. Kalo gue masuk IPA ya gue bersyukur and it’s surely a miracle. Tapi kalo gue masuk IPS, ya, well it’s fine, that’s what I wanted.

Suatu sore, gue diajak nyokap gue ketemu temennya. Gue ketemu sama Oom William. He’s Chinese man. I’m not going to talk about race or racism here, tapi dari yang gue tau, orang Cina biasanya punya semangat juang dan hidup yang tinggi, yang lebih maju daripada orang Melayu kebanyakan yang cenderung pemales dan menyepelekan hal-hal kecil tapi penting. Dan dia ngajak ngobrol gue.


OW: Kamu mau masuk jurusan apa?
G: Pengennya sih IPA, Oom. Cuma masih belom tau nih.
OW: Memangnya kamu mau kuliahnya jurusan apa? (jurusan di SMA sih ga ada apa-apanya buat orang tua)
G: Err… (ini nih pertanyaan yang selalu paling menghantui gue) ga tau Oom.
OW: Lho, kamu tipenya kayak apa? Suka yang eksakta, yang ngitung-ngitung gitu atau sosial, kayak kamu sekarang lagi ketemu orang-orang?
G: Emangnya kenapa, Oom?
OW: Ya itu penting. Kalo misalnya kamu suka ilmu eksakta, kamu akan tertarik kerja di laboratorium, mengukur-ngukur, menimbang, meneliti hasil eksperimen kamu sendiri. Tapi kalo kamu orang sosial, kamu lebih enjoy kayak sekarang gini, ketemu orang, mempelajari orang-orang dan keadaan sekitar kamu sendiri.
G: Oh… kayaknya sosial deh Oom (di hari dia mempertanyakan itu ke gue, gue lagi semangat mau masuk jurusan Teknik Kimia, soalnya nilai ulangan Kimia gue baru-baru itu bagus. Tapi gue baru sadar bahwa, once you decided to get involved in one field, you’ll do everything in it except the time has come for you to make a choice. Misalnya, gue pengen masuk jurusan Teknik Kimia Cuma gara-gara nilai ulangan hidrokarbon gue bagus. Tapi di teknik kimia gue nggak bakalan cuma mempelajari hidrokarbon doang, kan. Gue juga akan mempelajari larutan2, stoikiometri dan sebagainya. HOEEEKKKKKK)
OW: Kamu mau ambil kuliah apa di sosial?
G: Aduh masalahnya ya, Oom, aku nggak suka ekonomi.
OW: Lho, kenapa?
G: Soalnya gurunya nyebelin. Tapi ngga cuma itu aja sih. Sebenernya ekonomi tuh kayaknya sederhana, ilmunya cuman gitu-gitu doang tapi diribet-ribetin. Padahal hubungannya ya kesitu-situ lagi.
OW: Ooh berarti kamu belom bener-bener tahu celah-celahnya di ekonomi itu. Dulu ya, Oom kenal sama orang, orang Indonesia juga, dia kuliah MBA di Amerika. Waktu dia mau ngambil Ph.D, dia tes, dan nggak lulus. Dia kira dia kurang di matematiknya, jadi dia memperdalam matematik itu dan taun depannya ikut lagi. Tapi dia masih gagal! Dia ngerasa masih kurang, akhirnya dia balik lagi belajar matematik dan tahun depannya ikut tes lagi. Dan dia masih tetep gagal dan akhirnya DO. Ekonomi, dan semua ilmu sebenernya, itu sebenernya punya semacam jati diri masing-masing, gitu lho. Kalo kamu nggak tahu di mana celahnya, gimana meng-handle-nya, kamu nggak akan berhasil, apalagi kalo udah tingkat lanjut kayak Ph.D gitu, ya. Belajar ilmu itu sebetulnya kayak orang pacaran. Kamu harus tau dulu siapa dia, kamu deketin, kamu pelajari siapa dia yang sebenernya, baru kamu bisa bener-bener synchronized sama dia.
G: (diam. Terkesima)
OW: Sebetulnya kalau kamu mau belajar ilmu apa aja, entah itu komputer, fisika atau ekonomi, itu pasti ada gunanya. Percaya deh, ilmu itu ga ada yang sia-sia. Cuma kita juga mesti tau mana yang betul-betul kita suka dan kita bisa, jangan sampe salah jurusan. Karena kita nggak mau kan, ngerjain hal yang kita nggak suka dan lebih parah lagi, nggak tau gimana menanganinya.
G: Iya ya, Oom. (anjrit keren banget ceramahnya)
OW: Dulu waktu tinggal di Belanda saya kuliah fisika. Saya suka sekali, tertarik sekali saya sama fisika. Tapi begitu Papa saya meninggal, nggak ada lagi yang membiayai dan saya terpaksa kembali ke sini kan. Di sini juga cuma sedikit pilihannya waktu itu, maka saya pilih ekonomi. Butuh proses yang paaanjang sekali buat saya untuk terima bahwa saya ada di jurusan yang buat saya ‘asing’ sekali, gitu. Akhirnya setelah banyak diskusi sama dosen, sama senior-senior, temen dan banyak baca-baca buku, saya baru sadar, “Ya. Ini dia ilmu yang mau saya pelajari.” Waktu itu seandainya saya nggak menemukan seperti itu saya pasti keluar dari ekonomi. Buat apa? Saya sih nggak mau salah jurusan. Lagian kita butuh belajar, menuntut ilmu sampe setinggi-tingginya. Kamu bisa kok kayak anaknya Tante Ika tuh (temen yang satunya lagi), sekarang satu di Jepang satunya lagi di Oxford. Memang hidup tuh harus seperti itu.
G: (manggut-manggut)

I was seriously inspired. He makes me believe that everybody’s different and special in their own ways, and it has nothing to do with just a simple choice in high school. This world is still too big if you leave it just to concentrate on simple things like penjurusan di SMA. Nyokap gue yang kayaknya sadar sama pembicaraan serius gue itu tiba-tiba bilang, “Oom William itu, biar kemana-mana naik bajaj tapi lulusan MBA dari Amerika, lho Dek.” Dan, muka gue berubah ungu saat itu. OOPS.. GUE BARU SAJA CURHAT BETAPA GUE BENCI PELAJARAN EKONOMI PADA ORANG YANG SALAH. Ini sih hampir sama aja kayak gue bilang benci renang sama Michael Phelps!

Tapi gue udah belajar dari Oom William beberapa poin penting sore itu:

#1. JANGAN SAMPE SALAH JURUSAN
#2. Buat apa masuk jurusan yang keren dan ‘cling’, kalo lo akan susah survive di sana
#3. Gue tetep berusaha masuk IPA sebisa gue biarpun gue udah menulis poin #2. Buat gue, pengorbanan yang udah gue lakuin demi IPA udah besar banget.
#4. Rejeki orang ada di tangan Tuhan. It’s not what you learn in high school, neither in college, that gives money to keep alive. Buktinya? Oom William yang punya gelar MBA dari Amerika aja sekarang kerjaannya mondar-mandir ketemu Biyan, Iwan Tirta dan banyak banget desainer Indonesia lainnya, ngomongin batik tulis yang mahalnya ga sama deh sama daster batik di pasar. That proves, that your job is probably written is God’s own letter.

By the way, it seems like this post is too long and boring. I’m so sorry, peeps. All I wanna say is the point #1, and, Lucas Scott from One Tree Hill was right. You can be big part of someone else’s life, and not even know it. I have met Oom William only once since…ever, but he has made one of the most meaningful preaches I’ve ever heard from a stranger.

2 comments:

  1. ciiehh ariien.. =)

    -maya

    ReplyDelete
  2. sekarang ketakutan salah jurusan gue sudah tergantikan dengan takut ga naik kelas :(

    ReplyDelete